Dia Dan Penantian

oleh -169 views

Mataaceh.com, Aku sudah berjam-jam di sini. Menikmati lukisan alam yang nyata. Membiarkan semilir anginnya menyeka keringat dan air mataku. Berharap ombaknya membisikkan kabar darinya. Memandangi kapal nelayan terombang-ambing dihantam ombak. Tetap tegar seperti hatiku.

Di seberang lautan itu kau berada. Sepuluh tahun kau meninggalkan aku. Selama itu juga aku setia dengan janjiku.

Saat itu kau ungkapkan ingin melanjutkan pendidikanmu ke seberang benua. Takdir menjawab dengan indah.

Aku mendampingimu hunting program beasiswa luar negeri di warnet kala itu. Menemanimu mengumpulkan berkas. Menyemangatimu ketika ikut TOEFL.

Aku ikut gembira ketika namamu berada di list calon penerima beasiswa luar negeri. Membantumu menyiapkan barang yang akan di bawa. Menangis lebih keras dari ibumu ketika melepas kepergianmu di bandara. Sinetron, memang. Tapi itulah kenyataan yang terjadi.

Sebelum pergi, kau meyakinkanku akan kembali padaku. Kepergianmu adalah demi masa depan kau dan aku. Aku mengangguk diselingi air mata yang berderai.

Di tahun pertama kepergianmu, aku menangisimu setiap saat. Jangan ditanya bagaimana rindunya aku.

Aku tak hanya kehilanganmu tapi juga kehilangan kabar darimu. Setiap momen istimewa kita, aku selalu menunggu surprise darimu. Berharap kepergianmu hanya prank.

Di hari jadi kau dan aku, kabar itu kutunggu. Di hari ulang tahunku, aku menunggu kado darimu. Di hari ulang tahunmu, aku menyiapkan kado untukmu. Tapi kau tak datang.

Di hari jadi kau dan aku tahun selanjutnya, aku sudah bisa hidup normal. Tak lagi menangisimu. Berharap doaku dan doamu mengudara. Seperti ion positif dan negatif bertemu di udara menghasilkan petir kala hujan.

Akhirnya kabar tentangmu datang. Hatiku sakit lebih sakit dari waktu aku melambaikan tangan melepaskan kau terbang. Katanya, kau telah kembali ke tanah air. Menjadi salah satu putra terbaik negeri ini. Kau juga sudah menikah dan menetap di Ibu kota.

Tak perlu lagi kuceritakan sakitku. Sepuluh tahun kumenanti betah dengan kesendirian. Tak perlu kukisahkan gelisahnya malam-malamku merindukanmu.

Kupandangi lagi laut biru yang selaras dengan warna laut. Saat itu pernah kita duduk berdua di sini. Membicarakan tentang masa depan yang indah.j

Saat itu kau pemuda dua puluh empat tahun dengan segala cita-citanya. Sedangkan aku, gadis sepantaran umurmu. Bercita-cita mendampingimu, memasak untukmu, melahirkan dan membesarkan anakmu. Ah, sudahlah.

Jika saat ini kita bertemu, mungkin wujudmu tak lagi sama seperti laki-laki muda yang kurindukan. Mungkin kau juga tak lagi mengenaliku.

Langit telah merah jambu. Kutetapkan hati untuk menghapus namamu. Kan kuterima dia yang kini menemaniku menangis. Menemaniku menangis selama sepuluh tahun aku menantimu. Selama itu pula laki-laki yang kini duduk di sampingku betah menyendiri. Menunggu kepastian tentangku. Jika kau kembali padaku, dia ikhlas melepaskanku.

Di sini aku menerima pinangannya. Dia yang sabar menemaniku sepuluh tahun menangisimu.

Pantai kenangan, 3 November 2020

Penulis :Yani mulawarti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *