Jangan Panggil Saya Pelacur

oleh -171 views

Mataaceh.com, Hindun Malihatus Safwa namanya. Seorang gadis degil yang tak pernah nurut pada perintah orang tuanya. Dia selalu bertingkah semaunya. Ikut balap liar, mabuk-mabukan bahkan sudah terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

Piringan matahari hampir lenyap ditepi langit berubah warna menjadi jingga. Seorang wanita paruh baya berdiri setia di sudut jendela menunggu putri semata wayangnya. Harapannya tak pernah pudar, dia yakin bahwa penantiannya tak akan sia-sia. Dia selalu menunggunya bersama malam yang tiba bersama kerudung hitamnya.

Bibirnya tak henti merapalkan doa untuk putri kesayangannya itu. Karena dia yakin Allah tak kan pernah menolak doanya. Bukankah doa seorang Ibu itu mampu menembus langit?

Rembulan tersenyum dibalik awan yang menari diembus angin, semua terlelap dalam peraduan. Di sepertiga malam seorang Ibu menengadahkan kedua tangannya kepada Penciptanya memohon kepadaNya agar putrinya selalu diberiNya hidayah, dan selalu berada dalam lindunganNya. Di sujud terakhirnya dia merayu sang Khaliq agar putrinya kembali ke pangkuannya.

Semua ini terjadi, ketika Febri pacar pertama putrinya yang biasa dipanggil hindun itu menodainya. Waktu itu hindun masih duduk di kelas 3 SMP. Dia menanggungnya sendirian tanpa bercerita kepada Ibu dan Ayahnya. Betapa menyakitkan kisahnya. Bukan hanya pacarnya yang menodainya, akan tetapi ketiga teman Febri yang juga turut mencicipi tubuh belianya itu.

Siang itu, selepas pulang sekolah, Febri mengajak Hindun bertemu ditempat biasa. Tak ada gelagat aneh dari wajahnya. Biasanya Hindun selalu bersama Ira dan Maya kedua sahabatnya itu setiap kali dia menemui Febri. Berhubung Ira dan Maya ada kesibukan lain hingga akhirnya Hindun memutuskan pergi sendiri untuk menemui Febri.

One thought on “Jangan Panggil Saya Pelacur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *