Jangan Panggil Saya Pelacur Part 2

oleh -136 views

Mataaceh.com, Dari kejauhan Hindun melihat, di tempat itu banyak sekali wanita berbaju minim, dengan riasan menor berjejer, bagai menjajakan diri mereka. Ada juga yang bergelayut mesra tidak pada satu lelaki.Mereka tertawa lepas sambil memegang minuman beralkohol ditangannya.

Tempat itu dihiasi lampu-lampu temaram yang membuat kupu-kupu malam berterbangan menunggu seraya mengerlingkan mata kepada setiap mata yang memandang.

Baca Juga: https://mataaceh.com/2021/01/04/jangan-panggil-saya-pelacur/

“Ah, tempat apakah ini. ” Gumamnya dalam hati.
“Apakah ini merupakan takdir-Nya? Menuntun langkahku ke tempat terkutuk ini?

Hindun terus melangkahkan kakinya, tanpa ia sadar disetiap langkah kakinya menyisakan bercak darah. Ia tidak merasakan kakinya kini penuh dengan luka, karena perjalanan jauh yang ia tempuh, entah sudah berapa kilo ia berjalan. Karena saat ini yang Hindun rasakan luka yang begitu mendalam dihatinya.

Hatinya tercabik, mahkota yang ia jaga selama ini telah ternoda. Di nodai tiga lelaki bejat itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa diusianya yang baru 15 tahun akan mengalami nasib yang tragis seperti yang ia alami sekarang.

Malam pun datang mengakhiri tugas senja di ufuk barat. Mengubah warna jingga menjadi hitam pekat. Hindun berbaring tak berdaya di sebuah kamar berukuran kecil yang hanya ditutupi tirai.

“Kenapa tiba-tiba aku berada di tempat ini?” ucapnya. “Rupanya kau sudah sadar?” kata wanita bertubuh tambun itu.
“Sia… Siapa anda.” kata Hindun terbata
“Anak buahku menemukanmu pingsan di depan penginapanku ini.” ujarnya.

Hindun bergegas bangun dari ranjang yang tak begitu besar, berusaha keluar dari tempat terkutuk itu.

“Mau kemana kau.” Seru wanita itu.
“Ma… maaf Bu, saya mau pulang, saya takut Bapak dan Ibu khawatir. ” jawab Hindun terbata.
Wanita itu menyeringai, senyumannya lepas hingga menjadi tawa yang menggelegar.

Wanita bertubuh tambun itu sepertinya geram dengan tingkahku. Riasan make up yang menor dengan lipstik merah darah membuat wajahnya tambah seram dimata Hindun.

“Pulang, katamu?” ucapnya menekan.
“Ya.”
“Tak semudah itu kau bisa keluar dari tempat madam, gadis kecil.” bentaknya. Membuat Hindun takut dengan suaranya yang semakin meningkat.

Hindun berusaha lari, namun, tubuhnya yang kecil tak cukup kuat melawan kedua algojo yang memeganginya.

“Kurung dia dikamar.” ucap wanita yang menyebut dirinya itu madam.

Hindun menatap kosong keluar jendela. Manik hitam itu tak henti mengeluarkan bulir air mata. Ia tak tahu harus berbuat apa. Sekarang hindun hanya bisa pasrah. Pasrah pada takdir yang telah membawanya ketempat ini, tempat yang dianggap kotor oleh semua orang yang menganggap dirinya suci.

Kini, statusku sebagai seorang pendayang. Bukan karena inginku. Namun, karena tardirku. Takdir untuk melayani laki-laki yang haus akan kemolekan tubuhku ini.

Bakal, begitu kata kebanyakan orang padaku. Jijik, kata mereka yang menganggap dirinya suci. Mereka terlalu suci untuk berdekatan denganku. Mereka bahkan lebih suci daripada si pemberi kehidupan. Sehingga sebelum kematianku mereka telah mengirimku ke neraka.

Tidakkah mereka fikir, Bahwa tidak ada satupun wanita yang ingin menjadi mainan pria?

Hanya wanita bodoh yang menginginkan untuk menjadi sundal, pramuria, kupu-kupu malam atau apapun itu namanya.

Kami para pramuria selalu dipaksa untuk melayani laki-laki yang tak pernah puas dengan nafsu binatangnya.

Pernah suatu ketika, ketika Hindun sedang demam, dia merasa dirinya lemas tiada daya, namun, laki-laki itu terus memaksanya untuk melayaninya. Tak peduli dengan keadaan Hindun yang terkulai lemas, tak hiraukan meski Hindun berulang kali mengiba.

Laki-laki itu terus menikmati tubuh belia Hindun sampai puas. Dan, setelahnya dia tertawa lepas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *