Petani Menjerit, EW LMND Aceh Minta Pemerintah Aceh Stabilkan Harga Kopi Gayo 

oleh -64 views

Mataaceh.com, Anjloknya harga Kopi Gayo hingga Rp4000 (empat ribu rupiah) Perkelontong (Perbambu) sebelumnya tidak pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini. Harga tersebut dinilai paling terburuk dalam sejarah petani kopi Gayo.

Dari aroma, citra rasa dan penampilan hingga cara pengolahannya, kopi Gayo dinobatkan sebagai kopi terbaik di dunia versi International  Conference On Coffee Science. Kopi ini juga diberi penghargaan khusus.

Selain itu, kopi Gayo juga mendapat predikat sebagai kopi termahal menurut Specialty Coffee Association of America. Kopi ini diproduksi di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah.

Namun sangat disayangkan, saat ini harga kopi tersebut anjlok hingga Rp4000,- Perbambunya.

Merespon hal tersebut, Eksekutif Wilayah- Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Aceh Mendesak Pemerintah Aceh untuk segera menstabilkan persoalan anjloknya harga kopi petani Gayo.

Ketua Agitasi dan Propaganda EW- LMND Aceh, Eri Ezi mengatakan, anjloknya harga kopi Gayo ini disebabkan oleh permainan cuan kapital (tengkulak) yang memonopoli harga kopi dilingkaran petani Gayo. Karena menurut Eri, harga kopi dipasaran masih stabil dengan kebutuhan pasar yang tinggi.

“Pemerintah Aceh harus segera mengeluarkan petani Gayo dari zona cuan-cuan kapital dan kaum feodal di masa Pandemi Covid -19 agar dapat menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi para petani kopi,” ujar Eri atau lebih dikenal Bung Eri, melalui pesan whatsApp kepada media ini, Sabtu 9 Januari 2021.

Dengan terjadinya ketidakstabilan harga kopi Gayo ini, menurut Bung Eri, pihaknya melihat, bahwa itu adalah salah satu bentuk legalisasi penjajahan gaya baru bagi petani khususnya petani kopi di daerah tengah yangg disebabkan  oleh pembiaran pemerintah setempat untuk melindungi kepentingannya.

“Ini akibat dari sistem Neo-Liberalisme atau sistem pasar bebas hingga harga kopi bisa dengan sangat mudah dikendalikan. Tentunya itu dilakukan oleh pemilik modal melalui kaki tangannya yaitu tengkulak ditambah lagi legalisasi yang diberikan oleh pemerintahan setempat,” ungkap Eri.

Oleh karena iu, maka dibutuhkan alternatif yang bijak dalam mengatasi persoalan tersebut.  Pihaknya mendesak Pemerintah Aceh untuk segera membuat satu Regulasi yang konkrit terhadap penetapan harga komoditi kopi Gayo dari masyarakat,” tegas Ketua Agitasi dan Propaganda EW- LMND Aceh ini.

Bukan hanya itu saja, Eri juga mendesak untuk segera diterapkan Sistem Ekonomi Berdikari di Aceh. Dan itu bisa dilakukan oleh Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten untuk meningkatkan perekonomian rakyat khususnya para petani kopi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *