Pelayanan IGD RSUDZA Banda Aceh Dinilai Buruk, Keluarga Pasien Kecewa

Oleh

Oleh

Banda Aceh | Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, dinilai buruk. Akibatnya banyak pasien tidak mendapatkan pelayanan medis yang optimal.

“Orang tua saya dipulangkan tanpa ada alasan yang jelas, juga terkesan ditelantarkan karena penanganannya sangat lambat ,” ujar Keluarga dari pasien Muchtar Mahmud, warga Lampulo, Banda Aceh, Sabtu (16/7).

Keluhan tersebut disampaikan Dr. Yusrizal, S.H., M.H., anak kandung Muchtar Mahmud, melalui keterangan tertulis yang diterima mataaceh.com , Sabtu, 16 Juli 2022, pagi.

Yusrizal menjelaskan ia bersama adiknya membawa ayah mereka dari Lampulo ke IGD RSUDZA Banda Aceh, Jumat (15/7) kemarin siang. Saat itu, Muchtar Mahmud dalam kondisi lemah, leukosit 40.000, dan luka kaki karena diabetes.

Menurut Yusrizal, saat tiba di IGD, ayahnya tidak langsung ditangani oleh dokter. “Setelah kami mempertanyakan kepada dokter PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis), sore hari baru ditangani oleh dokter PPDS bedah dan PPDS bedah plastik,” ujar Yusrizal yang merupakan Dosen Hukum Tata Negara Universitas Malikussaleh (Unimal).

Menjelang Magrib, kata Yusrizal, dokter PPDS menanyakan kepada keluarga pasien, “apakah pasien bersedia dirawat inap?” Lalu, pihak keluarga menyatakan bersedia.

“Namun, sekitar pukul 21.00 WIB, salah seorang dokter PPDS menanyakan kepada kami (keluarga pasien), apa alasan pasien dibawa ke IGD? Kami merasa aneh dengan pertanyaan ini. Padahal pasien masuk dengan kondisi lemah dan juga ada hasil lab,” kata Yusrizal yang juga Ketua Program Magister Hukum Unimal.

Yusrizal menilai antara dokter PPDS bedah dan bedah plastik saling lempar tanggung jawab, dengan mengatakan bahwa pasien tidak emergency, dan bukan tanggung jawab mereka, serta tidak memenuhi syarat untuk dirawat inap. Sehingga pasien dipulangkan kembali ke rumah dengan menggunakan ambulans RSUDZA.

“Kami sangat menyesalkan tindakan dan pelayanan di IGD RSUDZA Banda Aceh dalam hal penerimaan pasien dan penanganan di IGD. Kami berharap agar Pemerintah Aceh dan DPRA menindak manajemen RSUDZA yang memperlakukan pasien dengan tidak manusiawi,” tegas Yusrizal yang menetap di Lhokseumawe.

Yusrizal menyebut SOP penerimaan pasien di IGD dan juga pelayanan rumah rumah sakit pelat merah itu perlu dievaluasi.

Pelaksana tugas (Plt.) Wakil Direktur Pelayanan RSUDZA, dr. Novita, Sp.JP., dihubungi mataaceh.com, Sabtu (16/7), pukul 09.43 WIB, menjelaskan, “Pasien tidak dipulangkan, permintaan pulang dari keluarga, malam itu sebenarnya miskomunikasi antara peserta didik (PPDS bedah dan bedah plastik) dengan keluarga pasien, jadi keluarga kecewa”. ujarnya.

Disamping itu, pihak RSUDZA sudah menjemput pasien ke rumahnya di Lampulo. “Sekarang pasien sudah ditangani di IGD ” kata Wakil Direktur Pelayanan RSUDZA yang dikonfirmasi mataaceh.com melalui telepon seluler, Sabtu, sekitar pukul 16.45 WIB.

Laporan : Muhammad Adam

Aceh

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

ARTIKEL TERPOPULER
1
2
3
4
5
Opini Text