Aceh Barat , mata Aceh com -29 Agustus 2025– Sebuah ironi pendidikan kembali terungkap di Kabupaten Aceh Barat. Lembaga yang seharusnya mengurus pendidikan agama, Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Barat, justru absen dari tanggung jawabnya. Fakta itu terkuak saat mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) yang tengah melaksanakan KKN Reguler XXIV Tahun 2025 turun langsung melakukan kunjungan dan survei ke MTsS Poecut Baren, Kecamatan Sungai Mas.
Dipimpin oleh Rahmad Hidayat, mahasiswa Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian UTU, rombongan mahasiswa bersama Keuchik Desa Gunong Buloh, Ramitie, dan Gaseu serta aparatur tiga gampong turun meninjau langsung kondisi sekolah. Hasilnya, bukan hanya menunjukkan kepedulian mahasiswa, melainkan juga memperlihatkan betapa kosongnya peran Kemenag Aceh Barat di wilayah pedalaman.
Pendidikan Dibiarkan Jalan Sendiri
Kegiatan sederhana yang dilakukan mahasiswa itu seakan menjadi “tamparan” keras bagi pemerintah. Bagaimana mungkin sebuah kementerian dengan anggaran miliaran rupiah, justru kalah sigap dibanding mahasiswa KKN yang tanpa fasilitas besar?
Seorang tokoh masyarakat yang hadir menegaskan, “Kemenag seolah hanya hadir di kota. Di kampung-kampung, khususnya Sungai Mas, mereka seperti tak pernah ada.”
Madrasah Poecut Baren digambarkan hidup seadanya: ruang belajar terbatas, fasilitas minim, bahkan tenaga pengajar kerap kekurangan dukungan. Namun, sampai hari ini, Kemenag Aceh Barat jarang – bahkan hampir tidak pernah – melakukan langkah nyata untuk memperbaiki keadaan.
Solidaritas Masyarakat dan Mahasiswa
Di tengah kelalaian itu, masyarakat justru menemukan harapan pada gerakan mahasiswa. Kehadiran anak-anak muda UTU menjadi bukti bahwa rakyat tidak menyerah pada keadaan. Tiga keuchik bersama aparatur desa kompak mendampingi kegiatan mahasiswa, memastikan suara sekolah ini tidak terus terabaikan.
“Kalau menunggu Kemenag, sampai kapanpun madrasah kami tidak akan berubah. Setidaknya mahasiswa peduli, datang melihat langsung dan mau mendengar,” ujar seorang aparatur gampong.
Pertanyaan Besar untuk Kemenag Aceh Barat
Lalu, untuk apa keberadaan Kemenag Aceh Barat bila madrasah-madrasah di pelosok dibiarkan berjuang sendirian? Apakah lembaga ini hanya sibuk dengan rapat, program seremonial, dan laporan administratif, sementara kenyataan di lapangan dibiarkan membusuk?
Kenyataan bahwa mahasiswa KKN mampu hadir tanpa embel-embel anggaran besar seharusnya menjadi cermin kegagalan Kemenag dalam menjalankan mandatnya.
Menunggu Jawaban, Bukan Janji
Kini bola panas ada di tangan Kemenag Aceh Barat. Apakah mereka akan terus bersembunyi di balik angka-angka anggaran, atau berani turun langsung ke pelosok untuk membuktikan komitmen terhadap pendidikan agama?
Masyarakat tidak butuh lagi janji manis atau program di atas kertas. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata. Karena jika mahasiswa saja mampu mengisi kekosongan itu, maka tidak ada alasan bagi Kemenag untuk terus absen dari tanggung jawabnya.