Rabu, 7 Desember 2022

UMKM Binaan Bank Indonesia Hasilkan Miliaran Rupiah Sampai Tembus Pasar Mancanegara

Oleh redaksi

Banda Aceh, Mataaaceh.com | Bank Indonesia sebagai Bank sentral berupaya memberikan kontribusi terbaik untuk terus meningkatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang unggul.

Sejak didirikannya 1 Juli 1982, ber- anggota kan 30 orang, kelompok Juli Tani Desa Sidodadi Ramunia, berhasil mengembangkan potensi, kini

kelompok tersebut, sudah berhasil menyerap tenaga kerja 105 orang anggotanya. Dengan Secara khusus memberdayakan pekerja lokal, sampai saat ini lahan yang sudah di kelola seluas 40 Hektar.

Tidak asing lagi, Kelompok Juli Tani ini di Ketuai oleh Yareli ST, Rumah kelompok Juli Tani. Berada di Desa Sidodadi r. Kec. Beringin, jalan dusun Jogja Nomor 138, Kecamatan beringin Kabupaten Deli Serdang.

Komoditas petani cabai tersebut, ternyata juga di sorot oleh pemerintah. Dalam hal ini orang nomor satu ruang lingkup Sumatera Utara (Sumut) ya siapa lagi kalau bukan, Gubernur Edy Rahmayadi. Dalam agenda panen bersama cabai merah, dalam rangka gerakan nasional pengendalian inflasi pangan (GNPIP).

Setelah menjadi Binaan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara tersebut, pada tahun 2017, kita mendapatkan pelatihan diajarkan pola-pola menanam yang benar, dan metode yang bagus, penghasilan kita terus meningkat mencapai 20 ton permusim.

Lebih lanjut Yareli menjelaskan, Pengembangan inovasi pengolahan bahan organik dengan Teknologi MA. 11. Tentunya menjadi klaster cabai merah yang unggul.

“Tidak berhenti di situ saja Yareli Dengan cekatan membangun Kemitraan di berbagai sektor lintas daerah, kita juga mengedepankan SOP demi menjaga kualitas kerja, & nilai-nilai kearifan lokal”. Jelasnya pada pewarta Mataaceh.com.

keterangan: Bibit Cabai media semai mengunakan berupa pupuk organik, yang di kelola Kelompok Juli Tani, Kab. Deli Serdang.

Kini kelompok Juli Tani menjadi Binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara sejak, di resmikan oleh Wiwiek Sisto Widayat, pada (13November 2020).

“Dari hasil panen cabai, satu musim 20 ton satu Hektar nya, selain di Deli Serdang kita juga menyuplai termasuk ke luar daerah seperti, Pekan Baru, Riau, Jambi, Pelembang, Batam dan yang baru-baru ini kami pasok termasuk Banda Aceh”. Terang ketua kelompok Juli Tani pada saat diwawancarai.

UMKM Binaan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara ini, bisa menembus omzet hingga Rp.10 Miliar bersih, dalam satu musim. Keren bukan. “Dari situ pun kita memfasilitasi peserta magang atau anak muda-mudi di desa kami sampai kuliah ke pulau Jawa, di Institut Pertanian Bogor (IPB)”. Tuturnya.

UMKM binaan Bank Indonesia membuktikan keunggulannya dengan mencatat penjualan hingga mencapai Rp.10Miliar per musimnya. Dan 1600 Ton dalam dua musim.

Diungkapkan Yareli, “Satu hari penghasil kita capai 7 ton cabai, yang di hasilkan oleh kelompok Juli Tani,” Ujar Yareli ST. juga ketua Kelompok Juli Tani.

Kendati demikian, dari cabai yang kita hasilkan juga kita mengolahnya menjadi, Bon Cabai, Saus Cabai, & Cabai bubuk.

Setelah meninjau kelompok Juli Tani, Field trip dan capacity building Jurnalis mitra Bank Indonesia Provinsi Aceh dan Bank Indonesia Lhokseumawe Tahun 2022. Di lanjutkan menuju kota Medan, melihat UMKM yang juga merupakan Binaan KpwBI Sumut.

Kain Ulos Sianipar Robert, Medan.

Pesona kain tenun ‘ulos’, asal Kota Medan ini, menjadi buah bibir di mancanegara pasalnya, ulos inilah yang kemudian identik dengan pakaian adat Suku Batak, ini juga yang menjadi spirit identitas Suku Batak.

Kain tenun ulos biasa di gunakan dalam acara penting, ulos Batak sering di pakaian pada acara adat istiadat setempat seperti hal pada acara pesta pernikahan, pemakaman dan acara-acara kehormatan besarnya lainnya.

Tekstur bahan kain ulos ini bewarna mencolok juga miniatur kainnya kasar dapat di rasakan saat mengusap pada bagian permukaan kain tenun asli buatan tangan, juga tidak luntur dan ringan saat memakai nya.

Saat peserta jurnalis Bank Indonesia Provinsi Aceh, menguji tempat tersebut kami menjadi lebih memahami untuk memperdalam khasanah pengetahuan tentang menenun. Selain itu, rekan jurnalis bisa mengabadikan momen pada proses pembuatan kain tenun ulos sianipar, kami di buat takjub akan pembuatan nya. Dengan berbagai kreasi lokal.

Pembuatan Kain ulos tersebut, di tenun menggunakan metode tradisional mengunakan alat pembantu yang bukan mesin dari kayu-kayu membutuhkan kesabaran selama dua hari. Dalam proses tenunannya. Menenun kain itu merupakan kaum emak-emak, Proses Ulos Sianipar Robert ini memiliki kain ulos yang unik dan khas tersendiri. Ungkap salah satu karyawan Ulos Sianipar.

Pemilik Bisnis kain Ulos Sianipar bercerita kepada Mataaceh.com tentang perjalanan karir bisnisnya yang iya lakoni dari kakek di dari tahun 1992, sampai sekarang. Beranjak masih dari bangku kuliah, ia mempromosikan pada teman se bangku kuliahnya, sampai saya di katai gila’ oleh temen-temen. Katanya.

Diketahui, untuk menghadapi persaingan pasar global saat ini tidaklah mudah, karena produk UMKM akan bersaing dengan negara lain. Peningkatan akses dan jangkauan akses UMKM terhadap jasa keuangan sangat di butuhkan untuk menghadapi persaingan tersebut.

Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara tidak pernah tidak pernah tanggung-tanggung dalam mendukung produk UMKM binaannya.

Perajin Tenun Ulos Sianipar, mengunakan alat pembantu tradisional. Lokasi di Gudang UMKM Ulos Sianipar, Kota Medan.

Perlu diketahui UMKM adalah jenis usaha yang punya kontribusi cukup besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain berperan dalam memperluas kesempatan kerja, dan penyerapan tenaga kerja UMKM berperan penting dalam pembentukan produk domestik bruto.

Selain memajukan ekonomi negara UMKM sebagai pilar terpenting dalam perekonomian di Indonesia dinilai perlu bersinergi dengan dunia perbankan agar bermanfaat dalam pemulihan ekonomi Nasional, Paska pandemi.

Sesampainya di tempat Toko sovenir kerajinan tangan Ulos Sianipar, mata kami di manjakan oleh hasil tenun ulos sianipar
Keunikan motif dan bahan yang bagus membuat pengunjung nyaman. Wisatawan banyak berburu untuk di jadikan oleh-oleh untuk dibawa pulang di kampung halaman.

Lebih lanjut, Robert menjelaskan “Kalau ekspor itu tergantung permintaan, tergantung kebutuhan permintaan konsumen kita kirim lebih dari 20 Negara Amerika ke Jerman ke Inggris pokoknya Negara di Asean”. Ceritanya.

Sambungnya, kita pernah mengirimkan juga ke Jepang ke Hongkong sampai pernah kita kirim ke Zimbabwe kalau pernak-pernik kita jual dari Rp.5 Ribu sampai dengan 30 jutaan.

Lebih jauh Robert menegaskan, ” puji tuhan bersyukur atas program Binaan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara, yang telah mendorong UMKM kami membantu menjalankan bisnisnya kami dalam mempromosikan hingga mengekspor produknya sampai ke luar Negeri”. Demikian.

Cintailah Produk Dalam Negeri,
UMKM Maju, Indonesia Tumbuh.

Penulis: Rizki Fauzan
(Peserta Field trip dan capacity building Jurnalis mitra Bank Indonesia Provinsi Aceh dan Bank Indonesia Lhokseumawe Tahun 2022.)

HTML5 Icon

Leave a Comment