Lhokseumawe, mataaceh-backup.com | Penolakan tersebut di sampaikan oleh Direktur Aktivis Milenial Aceh Fakhrurrazi, M.AP dalam konferensi pers yang berlangsung di Shaka Kupi Kota Lhokseumawe.
Fakhrurrazi mengatakan, berapa waktu yang lalu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) telah mengeluarkan rekomendasi tiga nama Pejabat Gubernur Aceh, yang di usulkan kepada kementerian dalam negeri. Dari ketiga nama tersebut satu di antaranya berasal dari kalangan Militer.
Rekomendasi tersebut tentu mendapatkan reaksi dari masyarakat aceh. Ketidaksedian masyarakat aceh jika PJ Gubernur aceh kedepan ditetapkan dari kalangan Militer.
“Jika hal ini terus di paksakan maka dapat menimbulkan masalah baru bagi Aceh. Perdamaian Aceh adalah hal yang lebih Penting pada penunjukkan tersebut,” Katanya.
Kemudian ia mengatakan, masyarakat Aceh saat ini hanya ingin hidup damai. Maka dari itu PJ Gubernur aceh harus mampu menjaga keseimbangan dan memelihara perdamaian dengan baik. Tentu orang yang akan ditetapkan nanti yang menjadi PJ Gubernur aceh benar-benar sosok yang mengerti soal aceh, yang mengerti situasi ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat Aceh.
“Observasi kami dari berbagai sumber masyarakat Aceh kini menginginkan sosok yang akan menjadi yang menjadi PJ Gubernur Aceh harus dari kalangan Akademisi,” Ucapnya.
Selain itu dirinya menyebutkan, sebagai konsekuensi logis, Aktivis Milenial Aceh merekomendasikan sosok yang mengerti aceh, bukan hanya menjaga stabilitas politik di Aceh, akan tetapi orang yang mampu membangun disemua sektor publik dan hal itu berasal dari kalangan Akademisi atau kampus.
“Oleh karena itu kami menyatakan sikap sebagai berikut, kami menolak Pejabat Gubernur Aceh dari kalangan Militer. Sekalipun sebenarnya sudah terturup kemungkinan dari kalangan militer TNI/Polri aktif untuk menjadi PJ berdasarkan putusan pemerintah dan MK,” sebutnya.
Fakhrurrazi meminta kepada Presiden Republik Indonesia melalui Kementerian dalam negeri agar menetapkan Pejabat Gubernur Aceh dari Kalangan Akademisi atau kampus.
Jika memilih dari kalangan militer termasuk yang telah pensiun, masih mengibaratkan Aceh belum cukup kondusif. Padahal 2,5 tahun depan adalah waktu yang panjang dan bukan hanya mempersiapkan keamanan pelaksanaan Pemilu Serentak 2024.
“Kami memerlukan kepemimpinan sipil yang dekat dengan ide-ide perubahan dan demokrasi, untuk menjalankan program pembangunan dan kesejahteraan,” harapnya.
Berita Lainnya
Semua BeritaIkuti Kami
Berita Terkini
Indeks Berita
Dari Audit ke Kado: LANA Pertanyakan Perubahan Sikap Bupati Tarmizi terhadap PT Mifa
ACEH BARAT — Perubahan sikap Pemerintah Kabupaten Aceh Barat terhadap PT Mifa Bersaudara kembali menjadi sorotan. Jika sebelumnya PT Mifa menjadi salah satu perusahaan…
Langgar aturan sejumlah Operator sekolah Simeulue berstatus ASN diduga kuat gunakan nama orang lain didapodik untuk dapatkan Insentif Dana BOS
Operator sekolah atau OPS merupakan tenaga administrasi di satuan pendidikan yang bertanggung jawab sebagai pengelola, penginput, dan penanggung jawab utama data serta sistem informasi…
Dugaan Pemotongan Gaji Oleh PT.Fasha Putera Perkasa Korban Resmi melapor ke Disnaker
Aceh,mataaceh-backup.com, Seorang karyawan swasta di Nagan Raya, PT.Fasha Putera Perkasa, mengadukan dugaan pemotongan gaji sepihak ke Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Nagan Raya. Dia…
Di duga sabotase tindakan PT duaperkasa lestari cara terkait plang informasi kawasan konservasi
Senin 3 Agustus 2016 terpasang plang himbauan dari PT. dua perkasa lestari di pinggiran sungai Krueng semayam desa gunung Samarinda kec Babah rot kab…
Aktivis HAM dan Tim Investigasi: Warga Aceh Timur Jangan Terlena Isu Baitul Mal, Kawal Hak Korban Banjir dan Jadup!
ACEH TIMUR— Di tengah hiruk-pikuk informasi yang beredar, kalangan Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) bersama Tim Investigasi mendesak masyarakat Aceh Timur agar tidak terjebak…






